kualitatif
PERANAN METODE DISKUSI TERHADAP PENINGKATAN ASPEK
KOGNITIF SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(
PenelitianDilakukan Di SMK
MODEL PATRIOT IV Ciawigebang)
PROPOSAL
SKRIPSI
DiajukanUntukBahan Penulisaan Skripsi dan Diseminarkan untuk Memenuhi
Pada Program
StudiPendidikan Agama Islam
Disusun Oleh
Rohili
NIM : 1415.4.1.1051
![]() |
UNIVERSITAS ISLAM
AL-IHYA (UNISA)
KUNINGAN
2018 M / 1439
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peringkat pendidikan di Indonesia hingga saat ini masih sangat rendah jika
dibandingkan dengan Negara berkembang di Asia Tenggara. Masih banyak anak-anak
baik di kota maupun suku pedalaman yang belum mengenal pendidikan. Pola hidup
mereka sangat terbelakang dan berpikir pendidikan itu tidak penting, yang
terpenting menurut mereka adalah bisa bekerja dan bisa membantu keluarganya.
Pendidikan
merupakan gebrakan dalam pembaharuan pola fikir dan pengembangan ilmu
pengetahuan, di dalamnya berisikan pengembangan pola kepribadian manusia yang
kokoh. Kokoh dalam aspek jasmani, spritual, intelektual, ilmiah maupun bahasa
yang diperlukan untuk hidup sebagai individu maupun anggota masyarakat. Pada
masa penjajahan pendidikan agama tidak mendapatkan tempat di sekolah umum,
melainkan hanya diberikan oleh keluarga. Kolonial belanda dengan semangat yang
bergerilya menghambat perkembangan pendidikan agama di sekolah umum, karena
selain menjajah teritorial, Belanda juga membawa misi kristenisasi di
indonesia.
Kelahiran
sebuah mata pelajaran pendidikan agama islam di tiap-tiap sekolah bernasab dari
pendidikan sekuler minus agama yang di kembangkan pemerintah penjajah. Upaya
mewujudkan kembali eksistensi pendidikan agama mendapatkan titik terang setelah
terbit UU No. 4 tahun 1950 dan Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan
dengan Mentri Agama pada tanggal 16 juli 1951 yang menjamin adanya pendidikan
agama di sekolah umum. Dengan munculnya peraturan tersebut, berarti adanya
keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara pendidikan dan spritual (Agama)
yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Melalui agama, manusia mendapatkan
arah dan landasan etis serta moral pendidikan seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai
ajaran agama islam. Proses pengembangannya adalah melalui pendidikan, karena
setiap ilmu pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang senantiasa berkembang
karena tuntutan social dan ilmu pengetahuan. Misalnya ketika ilmu pengetahuan
belum berkembang seperti sekarang, guru tidak merasa sulit untuk menyampaikan
seluruh ilmu tersebut kepada siswanya. Tetapi ilmu semakin hari semakin banyak
jumlahnya, maka guru mulai merasa kesulitan bagaimana cara menyampaikan ilmu
yang sedemikian banyak kepada siswa dengan waktu yang terbatas.
Dengan
lahirnya bidang studi Mata Pelajaran Agama Islam diharapkan dapat menanggulangi
pola fikir masyarakat serta dapat memberikan peranan dalam usaha menumbuh
kembangkan sikap beragama siswa sesuai dengan zamannya. Sikap dan kemampuan
siswa dalam beragama merupakan cermin dari keberhasilan guru agama dalam
menyalurkan ajaran agama melalui usaha pendidikannya. Kemampuan-kemampuan
tersebut meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk menumbuhkan
ketiga aspek tersebut, pelaksanaan pendidikan agama di sekolah memerlukan
suasana interaksi antara guru dan siswa yang sifatnya lebih mendalam, lahir dan
batin. Interaksi yang ditandai adanya pertukaran pemikiran dari guru terhadap
siswa dan dari siswa terhadap siswa, sehingga dapat menciptakan suasana belajar
yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan pengajaran. Untuk itu dalam
mencapai tujuan yang diharapkan, seorang guru dituntut untuk memilih dan
mempertimbangkan strategi, metode dan media yang akan di gunakan pada proses
pembelajaran. Maka dari itu, seorang guru harus lebih selektif dalam merumuskan
rencana pengajaran serta lebih mengenal ciri-ciri yang khas pada setiap teknik
penyajian, hal itu sangat perlu untuk penguasaan setiap teknik penyajian, agar
ia mampu mengetahui, memahami dan terampil menggunakannya.
Di
samping itu pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan pada sistem
kurikulumnya. Sebagai contoh, sebelum adanya kurikulum 2013(Kurtilas),
sebelumnya telah ada KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), kurikulum
1975, kurikulum 1984, kurikulum CBSA, kurikulum 1994, dan kurikulum 1994
suplemen 1999, serta KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Perubahan-perubahan
tersebut merupakan usaha sadar pemerintah dalam
mewujudkan tujuan pendidikan yang tertera dalam UUD, yakni mencerdaskan kehidupan
bangsa serta ikut dalam menertibkan dunia.
Mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam sampai saat ini tidak dapat disangkal lagi
masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari bagi para siswa, tetapi proses belajar mengajar yang berhasil tidak
hanya menghasilkan siswa yang pengetahuannya (kognitifnya) meningkat juga
pandangannya atau persepsinya terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam bertambah
positif, serta cara belajarnya berubah semakin efektif dan efisien. Kedua
factor tersebut harus menjadi perhatian utama bagi guru, orang tua, dan
masyarakat karena tujuan pengajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya untuk
memperoleh nilai yang tinggi, pandai Pendidikan Agama Islam, tetapi untuk
mempermudah penalaran, dan bahkan melatih anak dalam berakhlak yang baik dalam
kehidupan sehari-hari. salah satu tes bidang studi Pendidikan Agama Islam didapat
dari hasil ulangan semester, hal ini bertujuan untuk hanya mengukur kemampuan
kognitif, hasilnya digunakan sebagai penilaian keberhasilan belajar siswa. Oleh
karena itu untuk dapat menyelesaikan tes dengan hasil yang memuaskan, siswa
haruslah dalam keadaan siap. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan tersebut
dapat berasal dari intenal maupun eksternal diri siswa. Faktor eksternal antara
lain adalah sistem pengajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa tersebut.
Tingkat
keberhasilan siswa menjawab test hasil belajar bidang studi Pendidikan Agama
Islam serta sebagai factor yang diduga berperan mempengaruhi keberhasilan siswa
mempelajari Pendidikan Agama Islam, dan merupakan masalah pokok yang akan
dipecahkan melalui penelitian ini, baik secara aspek kognitif maupun dari aspek
psikologi siswa itu sendiri.
Mudah-mudahan
niat yang baik dan mulya ini menjadikan awal perhatian sebagai seorang pengajar
atau pendidik. Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti “
Peranan Metode Diskusi Terhadap Peningkatan Aspek Kogntif Siswa Pada Mata
Pelajaran Pendidikan Agama Islam “.
B.
Fokus
Penelitian
Sesuai
dengan latar belakang diatas yang mempengaruhi aspek kognitif
siswa diantaranya ada dua faktor, yaitu :
1. Faktor
internal berupa usaha siswa yang dilakukan secara pribadi diluar jam mata
pelajaran, salah satu contoh usahanya yaitu siswa menghafal sebelum ulangan
berlangsung.
2. Faktor
eksternal berupa sistem pengajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa
seperti menentukan strategi, metode dan media yang baik digunakan sesuai dengan
kemampuan siswa.
Namun
guna memperjelas arah dan obyek penelitian, peneliti memfokuskan penelitian ini
pada faktor eksternal, yaitu :
1. Metode
Diskusi
2. Peningkatan
aspek kognitif siswa
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka dalam penelitian ini
merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana
aplikasi metode di SMK Model IV Patriot Ciawigebang ?
2. Bagaimana
aspek kognitif siswa ?
3. Adakah
peranan penting antara penerapan metode diskusi terhadap aspek kognitif siswa?
D.
Tujuan
peneletian
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah :
1. Untuk
mengetahui sejauh mana aplikasi metode diskusi di gunakan di SMK Model IV
Patriot Ciawigebang.
2. Untuk
mengetahui aspek kognitif siswa di SMK Model IV Patriot Ciawigebang.
3. Untuk
mengetahui seberapa besarnya peranan metode diskusi dalam keberhasilan
pembelajaran.
E.
Manfaat
Penelitian
Hasil
penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :
1. Bagi
Universitas Islam Al-Ihya
Dalam
rangka pengembangan ilmu pengetahuan untuk penelitian selanjutnya hasil
penelitian ini di harapkan memberikan sumbangan pengetahuan tentang aspek
kognitif yang ada kaitannya dengan metode belajar yang diaplikasikan pada siswa.
2. Bagi
Sekolah Menengah Kejuruan Model IV Patriot
Dengan
mengetahui pentingnya peranan metode terhadap aspek kognitif siswa, maka
diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pembinaan dan pengembangan
sekolah yang berangkutan.
3. Bagi
Guru
Sebagai
masukan informasi mengenai pentingnya metode dalam proses pembelajaran. Dengan
demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk membimbing
siswa sehingga dapat meningkatkan aspek kognitif yang maksimal.
4. Bagi
Siswa
Dengan
mengetahui peranan metode dalam meningkatkan aspek kognitif, diharapkan dapat
dipakai sebagai pertimbangan untuk menyesuaikan metode belajar sehingga siswa
dapat memperoleh pengetahuan dan prestasi yang memuaskan.
5. Bagi
Penulis
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dengan terjun langsung
ke lapangan dan memberikan pengalaman belajar yang menumbuhkan kemampuan dan
keterampilan meneliti serta pengetahuan yang lebih mendalam terutama pada bidang
yang dikaji.
BAB
II
STUDI
PUSTAKA
A.
Pengertian
Metode
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia metode adalah cara-cara yang tersusun dan
terencana untuk mencapai tujun yang telah di tentukan. Dalam Bahasa Arab metode
dikenal dengan istilah thariqah yang artinya jalan/cara terstruktur secara
sistematis yang harus di siapkan untuk menggapai tujuan. (Shalih Abd. Al Aziz,
119 : 196).
Kata metode
menurut bahasa Yunani yaitu Methodos, terdiri dari kata “metha” yang berarti
melalui, dan “hudos” yang berarti jalan yang dilalui. Menurutt M. Arifin, 1993
: 97 metode adalah alat yang digunakan
untuk menggapai tujuan pendidikan. Sedangkan ( prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd
2006:147) memberikan pengertian Metode sebagai cara kreatif gurudalam merealisasikan
strategi yang telah ditentukandengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang
dialami peserta didik guna mencapai susunan tujuan pengajaran secara optimal.
Sedangkan secara istilah prof. Dr. H.
Ramayulis mengemukakan definisi mengenai metode yang didasari oleh beberapa
ahli, diantaranya :
1. Hasan
Langgulung mendefinisikan metode adalah cara yang wajib dilakukan agar mencapai
tujuan pendidikan.
2. Abd.
Al-Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara praktis demi
terwujudnya tujuan pendidikan.
3. Al-Abrasy
mendefinisikan bahwa metode adalah jalan yang kita telusuri untuk membuka
wawasan kepada peserta didik tentang segala macam metode dalam berbagai
pelajaran. (Ramayulis,2004 : 155)
Dengan menggunakan metode otomatis
memberikan keuntungan besar bagi kedua belah pihak antara guru dan murid.
Keuntungan bagi guru yaitu tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang
sebelumnya telah dirumuskan dalam strategi, sedangkan keuntungan bagi siswa
yaitu mendapatkan penambahan ilmu setelah kegiatan belajar mengajar.Oleh sebab
itu, supaya mendapatkan metode yang tepat diperlukan pertimbangan dalam
memilihnya, diantaranya faktor pertimbangan adalah :
1. Tujuan
yang harus dicapai peserta didik
2. Peserta
didik
3. Bahan
pelajaran
4. Sarana
/ fasilitas
5. Situasi
6. Partisipasi
7. Pendidik
8. Kelenihan
dan kelemahan metode. (Ramayulis, 2005 : 12)
B.
Pengertian
Metode Diskusi
Metode
Diskusi adalah Suatu kondisi dimana siswa disuguhi dengan materi yang bersifat
problematis sehingga mengundang pola fikir dan pandangan dari peserta didik. Dengan
demikian lahirlah perdebatan ilmiah diantara peserta didik yang bersifat
mempertahankan argumen dalam pemecahan permasalahan sampai didapatkan
kesepakatan diantara mereka. Menurut killen, 1998 yang dikutip oleh prof. Dr.
H. Wina Sanjaya, M.Pd 2006:147 , menyatakan :
Metode
diskusi yaitu cara penyajian bersifat memecahkan suatu permasalahan, menjawab
pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta memberikan suatu
kesimpulan yang telah disepakati bersama.
Dilihat
dari pengorganisasian bahan pelajaran, ada perbedaan prinsip apabila
dibandingkan dengan metode yang lain. Misalnya pada metode ceramah bahan
pelajaran sudah di organisir serapih mungkin sehingga guru tinggal
menyampaikannya pada peserta didik. Sedangkan dalam metode diskusi tidak demikian
justru siswalah yang mengorganisir sendiri bahan ajarnya, peran guru disini
hanya menyampaikan/menugaskan siswa untuk mengorganisir tema-tema diskusi
menjadi bahan ajar atau pegangan oleh masing-masing kelompok.
Dengan
melakukan diskusi, maka kita akan dapat menambah wawasan atau
pengetahuanmengenai suatu permasalahan yang diangkat dalam proses diskusi, hal
ini disebabkan karena didalam proses diskusi, tidak hanya melibatkan satu
pikiran saja, melainkan terdapat banyak pikiran-pikiran yang tetap mengemukakan
tentang suatu permasalahan.
a. Jenis-
jenis diskusi
Dari sekian banyaknya
macam-macam jenis diskusi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaaran,
diantaranya :
1) Diskusi
kelas
Pemecahan
masalah yang dilakukan oleh seluruh pesserta didik, adapun prosedurnya yaitu :
a) Guru
memberikan peran kepada siswa, misalnya siapa yang akan berperan sebagai
moderator, siapa yang menjadi pemateri.
b) Memaparkan
masalah yang harus di pecahkan selama 10-15 menit.
c) Siswa
diberi kesempatan untuk bertanya atau menanggapi dari materi yang telah
dipaparkan setelah daftar kepada moderator.
d) Pemapar
materi memberikan tanggapan
e) Moderator
menyimpulkan hasil diskusi.
2) Diskusi
kelompok kecil
Diskusi
kelompok kecil adalah suatu proses teratur yang melibatkan Siswa berdiskusi
dalam kelompok-kelompok kecil dibawah bimbingan guru atau temannya untuk
berbagai informasi, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan.
3) Simposium
Diskusi
Simposium menampilkan beberapa orang pembicara dan mereka mengemukakan
aspek-aspek pandangan yang berbeda dan topik yang sama. Setelah pembicara
memberikan pandangannya maka simposium diakhiri dengan pembacaan kesimpulan
hasil kerja tim perumus yang telah ditentukan sebelumnya.
4) Diskusi
panel
Diskusi
panel adalah pembahasan terhadap masalah yang dilakukan oleh beberapa panelis, biasanya terdiri dari
3-5 orang. Panelis berperan untuk menyampaikan pandangannya terhadap masalah
yang dibahas. Dalam diskusi panel audiens tidak terlibat secara langsung,
adapun tugas audiens disini yaitu untuk menyimak pembicaraan para panelis. Oleh
sebab itu, agar diskusi panel ini lebih efektif perlu digabungkan dengan metode
lain, misalnya penugasan kepada siswa untuk merumuskan pembahasan dalam
diskusi.
b. Kelebihan
Kekurangan Metode Diskusi
Kelebihan
Metode Diskusi :
Ø Suasana
kelas hidup, sebab para siswa mengarahkan pemikirannya kepada masalah yang
sedang didiskusikan. Partisipasi siswa menjadi lebih baik.
Ø Siswa dapat
belajar menghargai pendapat orang lain.
Ø Dapat
menaikkan prestasi kepribadian individual seperti toleransi, sikap demokratis,
sikap kritis, berpikir sistematis dan sebagainya.
Ø Berguna
untuk kehidupan sehari-hari terutama dalam alam demokrasi
Ø Siswa dapat
belajar bermusyawarah.
Kekurangan
Metode Diskusi :
Ø Diskusi pada
umumnya dikuasai oleh siswa yang gemar berbicara.
Ø Bagi siswa
yang tidak ikut aktif ada kecenderungan untuk melepaskan diri dari tanggung
jawab.
Ø Pendapat
serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan.
Ø Membutuhkan
waktu cukup banyak.
Ø Sulit
digunakan di tingkat rendah pada sekolah dasar
Ø Tidak
semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat
problematis saja yang dapat didiskusikan
Berhasil
tidaknya diskusi banyak bergantung pada factor :
o Kepandaian
dan kelincahan pimpinan diskusi
o Jelas
tidaknya masalah dan tujuan yang dirumuskan
o Partisipasi
dari setiap anggota
o Terciptanya
situasi yang merangsang jalannya diskusi
o Mengusahakan
masalahnya supaya cukup problematic dan merangsang siswa berpikir.
c. Langkah-langkah
Melaksanakan Diskusi
1) Langkah
persiapan
o
Merumuskan tujuan jelas yang hendak
dicapai, sehingga dapat dijadikan kontrol dalam pelaksanaan
o
Menentukan jenis diskusi
o
Menetapkan topik pembahasan
o
Mempersiapkan teknis pelaksanaan diskusi
2) Pelaksanaan
diskusi
o
Memeriksa kesiapan petugas diskusi
o
Memberikan pengarahan sebelum diskusi berlangsung
mengenai petunjuk dan teknis yang akan digunakan dalam diskusi.
o
Melaksanakan diskusi sesuai dengan
petunjuk dan teknis.
o
Mengendalikan pembicara kepada pokok
persoalan yang sedang dibahas.
3) Menutup
diskusi
o
Membuat kesimpulan pembahasan hasil diskusi
dengan meminta pendapat dari seluruh peserta sebagai umpan balik untuk
perbaikan selanjutnya.
C.
Pengertian
Aspek Kognitif
Secara
bahasa Kognitif berasal dari bahasa latin yaitu “cogitare” artinya berfikir
(Fauziah Nasution 2011 : 17). Dalam perkembangan selanjutnya, kemudian istilah
kognitif menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia atau satu
konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku
mental yang berhubungan dengsn masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan,
menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan,
membayangkan, memperkirakan, berfikir dan keyakinan.
Kognitif
berhubungan dengan melibatkan kognisi. Sedangkan kognisi merupakan kegiatan
yang didalamnya ada unsur upaya untuk memperoleh pengetahuan atau usaha untuk
mengenali sesuatu mengenali sesuatu melalui kejadian yeng telah dialaminya.
Robert M. Gagne dalam W.S. Winkel (1996 : 102) menyatakan bahwa “ ranah
kognitif adalah pengaturan-pengaturan aktivitas mentalnya sendiri “. Kemudian
thohroni taher juga mengemukakan teori Jean piaget mengenai perkembangan
kognitif yaitu “ perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada
manipulasi anak dan interaksi aktifnya dengan lingkungan sekitar” Thahroni Taher (2013 : 9).
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aspek kognitif adalah
kemampuan yang dapat diamati secara visual dari aktifitas mental (otak) untuk
memperoleh ilmu pengetahuan melalui interaksi aktifnya dari lingkungan sekitar.
Menurut
Benjamin S. Bloom dalam ranah kognitif itu ada enam jenjang berpikir, yaitu :
1) Pengetahuan
2) Pemahaman
3) Penerapan
4) Analisis
5) Sintesis
6) Evaluasi.
(Anas Sudijono,2001 : 49-52)
Menurut M. Dalyono (2005: 55-56) faktor
yang mempengaruhi hasil Belajar terbagi kedalam dua faktor, yaitu :
1) Faktor
internal
a) Kesehatan
b) Intelegensi
dan bakat
c) Minat
dan motivasi
d) Cara
belajar
2) Faktor
ekstern
a) Lingkungan
keluarga
b) Lingkungan
sekolah
c) Lingkungan
masyarakat
D.
Pengertian
Sekolah
sekolah adalah suatu lembaga yang memang
dirancang khusus untuk pengajaran para murid (siswa) di bawah pengawasan para
guru. Kebanyakan dalam sebuah negara mempunyai model sistem pendidikan formal
yang mana hal ini sifatnya wajib. Selain itu sistem ini jugalah yang membuat
para siswa bisa mengalami kemajuan dengan melalui serangkaian sekolah tersebut.[1]
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Bab VI
Pasal 13 Ayat 1 jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan
informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan formal adalah
jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah
jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan
keluarga dan lingkungan.[2]
BAB
III
PROSEDUR PENELITIAN
A.
Metode
Dan Alasan Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif, “ yaitu suatu penelitian yang digunakan
untuk memahami makna dibalik data yang terlihat. Situasi sosial sering tidak
bisa di fahami berdasarkan apa yang dikatakan dan dikerjakan orang. “(Sugiyono,
2009: 35).
Alasan
peneliti menggunakan metode kualitatif pada penelitan ini, karena peneliti
ingin mengetahui lebih rinci dan menyeluruh proses penerapan metode diskusi
serta peran metode diskusi dalam meningkatkan aspek kognitif peserta didik.
B.
Tempat
penelitian
Penelitian
ini dilakukan di SMK Model IV Patriot yang berada di Kecamatan Ciawigebang
Kota Kuningan. SMK Model IV Patriot ini dipilih
menjadi tempat dilaksanakannya penelitian dengan alasan sebagai berikut:
1. Sekolah ini
merupakan sekolah yang menerapkan proses pembelajaran menggunakan metode
diskusi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Sekolah ini
memiliki fasilitas pendukung pembelajaran Pendidikan Agama Islam
3. Peneliti
pernah melakukan kegiatan Pendidikan Latihan Profesi (PLP) di seklah tersebut.
Dengan
pertimbangan di atas, akhirnya penulis memutuskan SMK
Model IV Patriot sebagai lokasi penelitian.
C.
Instrumen
Penelitian
Menurut
Nasution ( 1988 ) : Instrumen penelitian utama pada penelitian kuslitatif yaitu
peneliti itu sendiri, karena segala sesuatunya ( masalah, fokus penelitian,
prosedur penelitian, hipotesis, hasil penelitian) tidak dapat ditentukan secara
pasti dan jelas sebelumnya.
Peneliti
sebagai instrumen atau alat penelitian karena mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Peka
terhadap lingkungan,
2. Peneliti dapat
menyesuaikan diri
3. Tiap situasi
merupakan keseluruhan artinya tidak ada suatu instrumen berupa test atau angket
yng dapat menangkap keseluruhan situasi kecuali manusia,
4. suatu
situasi yang melibatkan interaksi manusia tidak dapat dipahami dengan
pengetahuan semata dan untuk memahaminya, kita perlu sering merasakannya,
menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita,
5. peneliti
sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat
menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah
pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika,
6. hanya
manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang
dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai balikan untuk
memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau perlakuan.(Sugiyono 2009: 308)
D.
Sampel
Sumber Data
Berdasarkan fokus penelitian, maka
peneliti menentukan langkah-langkah pengambilan sampel sumber data adalah
sebagai berikut :
1. Peneliti
melakukan penjelajahan umum ke SMK-SMK untuk mencari adakah guru PAI yang sedang
menggunakan metode pembelajaran diskusi. Penjelajahan dengan memilih Kepala
Sekolah, gurudan dokumen sebagai sumber data awal, guna mengetahui ada tidaknya
metode diskusi yang sedang digunakan. Maka sampel sumber data penelitian
dipilih Kepala Sekolah, guru, dokumen.
2. Setelah
mendapat informasi dari Kepala Sekolah, guru, selanjutnya dapat kita ketahui
jumlah kelas yang sedang menggunakan metode pembelajaran diskusi, misalnya
kelas 1a, 2b dan 3c. Di sini sampel sumber data Kepala Sekolah, guru dan
Dokumentasi.
3. Berdasarkan
kelas tersebut, maka peneliti melakukan identifikasi terhadap hasil belajar
siswa dan bakat yang dimiliki siswa. Murid dan dokumentasi menjadi sumber data
pada langkah ini.
4. Memulai
melakukan penelitian terhadap murid-murid yang terpilih dengan sampel sumber
data murid yang bersangkutan dalam aktivitas diskusi, guru-gurunya. Pengumpulan
data dilakukan secara trianggulasi.
E.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah metode utama dalam
penelitian yang bertujuan dalam mendapatkan data. Prof Dr. Sugiyono (2009).
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
![]() |
|||||||||
F.
Teknik
Analisa Data
Menurut
prof. Dr Sugiyono (2009:401) analisis data cenderung dilakukan secara bersamaan
dengan pengumpulan data.
1. Analisis
Domain, ketika peneliti mulai memasuki lapangan.
2. Analisis
Taksonomi, ketika peneliti menentukan fokus penelitian.
3. Analisis
komponensial, ketika peneliti melakukan tahap selection dengan menggunakan
pertanyaan yang struktural.
4. Analisis
Tema Budaya
G.
Rencana
Pengujian Keabsahan Data
Demi
terjaminnya keakuratan data, maka peneliti akan melakukan keabsahan data. Data
yang salah akan menghasilkan penarikan kesimpulan yang salah, demikian pula
sebaliknya, data yang sah akan menghasilkan kesimpulan hasil penelitian yang
benar.Untuk
menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaaan. Pelaksanaan teknik
pemeriksaaan data didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Menurut Prof Dr. (2009: 366) ada 4 (empat), yaitu:
1. Uji
Kredibilitas data
Fungsinya
untuk menguji keabsahan data sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat
dicapai dan mempertunujukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan
jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
2. Uji
Transferability
Fungsinya
untuk menunjukan drajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke
populasi dimana sampel itu diambil.
3. Uji
Dependability
Dependability
dalam penelitian non kualitatif disebut dengan reliabilitas. Dalam kualitatif
Data dapat dikatakan reliabel apabila peneliti melakukan audit terhadap
keseluruhan proses penelitian.
4. Uji
Confirmability
Pada
penelitian kualitatif kriteria kepastian atau objektivitas hendaknya harus
menekankan pada datanya bukan pada orang atau banyak orang.
Selain itu,
dalam keabsahan data ini juga dilakukan proses triangulasi. Menurut William
Wiersma dalam Sugiyono (2007:372):
“Triangulation is qualitative cross-validation. It
assesses to a sufficiency of the data according to the convergence of multiple
data collection procedurs”. Diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai
cara dan waktu, sehingga triangulasi dapat kelompokkan dalam 3 jenis yakni;
triangulasi sumber, triangulasi pengumpulan data dan triangulasi waktu.
Dari tiga
jenis triangulasi tersebut, penulis memilih keabsahan data dengan pendekatan
triangulasi sumber untuk mengungkap dan menganalisis masalah-masalah yang
dijadikan obyek penelitian. Dengan demikian analisis data menggunakan metode
triangulation observers. Selanjutnya pendekatan triangulasi dilakukan menurut :
1. Sudut
pandang kepala sekolah sebagai pengawasi proses belajar mengajar,
pelaksanaan dan penilaian terhadap proses dan hasil belajar
2. Sudut
pandang Bagian Kurikulum sekolah penyusun instrumen
untuk kegiatan belajar mengajar.
3. Sudut
pandang guru mata pelajaran PAI selaku pengguna metode pembelajaaran diskusi
dalam kegiatan belajar mengajar.
4. Sudut
pandang peserta didik sebagai pihak yang memetik manfaat dalam kegiatan belajar
mengajar dengan menggunakan metode diskusi .
BAB
IV
JADWAL
PENELITIAN
A.
Jadwal
Penelitian
Adapun jadwal penelitian skripsi ini
sebagai berikut :
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan
ke :
|
||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|||||
|
1.
|
Penyusunan proposal
|
ü
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
2.
|
Seminar proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
3.
|
Memasuki lapangan,
grand tour dan minitour question, analisis domain
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
4.
|
Menentukan fokus,
minitour question, analisis taksonomi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
5.
|
Tahap selection,
structural question, analisis komponensial
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
6.
|
Menentukan tema,
analisis tema
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
7.
|
Uji keabsahan
data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
8.
|
Membuat draf laporan
penelitian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
9.
|
Diskusi draf
laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
10.
|
Penyempurnaan
laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
[1]www.sabah.edu.my Sejarah sekolah
[2]
http://www.pendidikanekonomi.com/2012/12/jalur-dan-jenjang-pendidikan-menurut-uu.html




Komentar
Posting Komentar